Cerita dulu waktu kuliah aku dan beberapa teman mencoba berusaha mencari tambahan uang saku, hasil dari urung rembuk disepakati untuk membuat sebuah cafe kecil-kecilan. Survei dilakukan untuk mencari lokasi di Banjarbaru, pada waktu itu sekitar tahun 1998 baru ada satu cafe tenda di Banjarbaru.
Persiapan dilakukan, termasuk uji coba membuat menu yang akan dihidangkan, dari berbagai macam juice dengan rasa yang berbeda dan hasil campuran buah-buahan. Persiapan lainnya adalah membuat tenda yang akan digunakan, tenda tersebut dirancang dengan sistem bongkar pasang (maklum dana terbatas tak mungkin beli yang sudah jadi). Karena waktu itu lagi musim demo maka menu juice spesial kami namakan juice reformasi.
Setelah persiapan lengkap, akhirnya cafe tersebut kami buka di kawasan Unlam Banjarbaru. Pemasangan tenda hingga lengkap segala perlengkapan seperti meja, kursi dan lain sebagainya ternyata begitu banyak memakan waktu dari jam 4 sore baru selesai menjelang magrib. Cafe kami buka hingga jam 12 malam, pada malam minggu kami mengadakan musik diiringi dengan organ tunggal.
Pada awal ternyata membikin cafe enak, mungkin sekalian buat kumpul bareng teman-teman, namun tenaga yang harus digunakan sangat banyak, kami harus merasakan bagaimana mendorong gerobak buat membawa perlengkapan-perlengkapan tersebut, bahkan ditengah hujan sekalipun. Belum lagi disaat semua sudah selesai dilakukan ternyata pengunjung yang datang tidak seperti yang diharapkan atau bahkan hujan datang dengan tiba-tiba membuat lokasi tenda kebanjiran. Disini sungguh sangat terasa bahwa ternyata mencari uang itu susah, jadi tahu bagaimana rasanya menjadi pedagang yang ada dipinggir jalan. Sebenarnya banyak juga yang heran koq mau bekerja, padahal secara materi semua personil yang ada kecukupan semua, tapi kami tetap mencoba berusaha.
Namun ternyata tidak mudah perbedaan pandang dan pemikiran dari teman-teman membuat cafe ini goyah, bahkan pada saat itu sempat didemo oleh aktivis kampus yang menolak cafe kami berada di lingkungan Unlam Banjarbaru. Bahkan dilingkungan keluarga sendiri sering dimarahi, maklum pulang kerumah baru bisa dilakukan pada jam 2 – 3 subuh. Sedangkan keesokan harinya harus kuliah lagi.
Akhirnya cafe kami tutup, walau demikian tak mengapa setidaknya sudah pernah berusaha mencoba bagaimana mencari uang sendiri. Dan sampai sekarang sepertinya masih pengen bikin cafe lagi.


