
Jan 16, 2010
Saat kemarau kita begitu merindukan tetes air hujan untuk membasahi bumi ini. Membawa kehidupan, menghijaukan kembali lahan yang telah terbakar. Menghijaukan kembali lahan pertanian dan mengisi kembali sumber-sumber air, sungai-sungai dan sumur disekitar kita.
Kini saat penghujan datang, kembali kita dihadapkan dengan permasalahan…banjir yang akan melanda disebagian daerah ditambah dengan wabah demam berdarah yang sedang melanda.
Air pembawa sejuta kehidupan, tinggal bagaimana kita menggunakannya dengan bijak, merawat lahan dan lingkungan kita agar tetap dapat menyerap air disaat penghujan datang hingga berguna dimusim berikutnya. Menjaga kebersihan agar terbebas dari nyamuk deman berdarah.
Selain hal diatas, mungkin sudah saatnya kita melakukan penghematan terhadap air, mengurangi penggunaan air berlebihan, baik saat kita mandi, mencuci piring, mencuci motor/mobil atau bahkan hal-hal sepele seperti saat ada kran air yang lupa kita matikan, kran air yang bocor dan sebagainya.
Continue Reading »

Jan 13, 2010
“Bila mau korupsi sekalian aja yang besar jangan tanggung-tanggung” kira-kira itu prinsip para koruptor kelas kakap. Coba aja setelah dipenjara masih bisa merasakan kemewahan dan kebebasan didalam LP. Bisa bikin penjara mewah …dan lihat aja dibanyak kasus korupsi hukumannya masih rendah…hmm…masih ada sisanya kira-kira ya kalau sudah keluar nanti..! Tapi ini bukan mengajari untuk korupsi.. hanya masalah penegakan hukum yang masih saja ada perbedaan antara yang lemah dengan yang kuat, antara yang kaya dan yang miskin.
Coba aja maling ayam, jambret belum masuk penjara sudah lebam-lebam digebukin bahkan ada yang tewas dihakimi massa, sementara sang koruptor yang mengembat uang rakyat dengan gagah masih bisa menebar senyum dipengadilan jangankan tersentuh bogem mentah penjaranya mungkin juga enak seperti punya bu Alin.
Semoga dengan terungkapnya kasus penjara mewah ini dapat menghapuskan mafia peradilan kalau tidak mungurangi praktek-praktek yang demikian ….semoga..!

Jan 9, 2010
Disudut lain Kota Banjarbaru. Kami bukanlah sekelompok pramuka yang sedang berkemah dan kami bukan pula sekelompok pecinta alam yang sedang berbaur dengan alam sekitarnya. Namun keadaan ekonomi yang harus membuat kami mendirikan tenda ini, untuk melepas lelah disaat panas terik dan hujan yang datang.
Itu adalah gambaran sekelompok orang yang pekerjaannya mencari intan dengan membuat/menggali lubang kemudian memisahkan antara tanah galian tersebut guna mendapatkan kilauan intan/berlian.
Di Kota Banjarbaru sudah terkenal dengan penghasil intan tepatnya di Cempaka, bahkan kualitas intan yang dihasilkan mengalahkan intan yang berasal dari luar negeri seperti Afrika. Wajar saja disini intan yang didapatkan tidaklah sebanyak dan semudah yang dikira, bahkan terkadang dengan nyawa sebagai taruhannya.. seperti posting terdahulu Sebuah Catatan Tentang Cempaka.
Namun ini bukan bercerita tentang para pencari intan tersebut, namun kembali kemasalah tenda. Kita mundur kebelakang saat si penulis masih kelas 1 SMP, berawal ingin merayakan tahun baru bersama teman-teman satu kampung akhirnya diputuskan mengadakan acara begadang dengan berkemah dilapangan terbuka. Maklum masih kecil tidak diperbolehkan jauh-jauh. Disiapkanlah segala sesuatunya dari terpal buat dijadikan kemah, kompor dan sebagainya.Setelah semua persiapan selesai mulailah pemasangan kemah tersebut dengan seadanya, maklum diantara peserta bukan pramuka tulen.
Akhirnya malam tiba, pada kumpul semua mulailah acara tahun baru,sembari nunggu bakar ikan dan jagung ada teman yang nyanyi pake gitar. Berhubung rumah dekat jadi apabila ada yang kurang masih bisa kembali kerumah..ya maklum kempingnya didekat rumah. Malam semakin larut ngga ada yang tidur pada asik semua dengan canda masing-masing. Tanpa terasa waktu udah menunjukkan pukul 5 pagi..kemudian ada teman yang punya ide supaya langsung saja dibenahi tendanya biar pagi santai langsung jalan pagi. Mulailah aksi membereskan perlengkapan, tenda pun dirobohkan. Setelah selesai seorang rekan bingung koq masih gelap dan belum masuk subuh juga..? ternyata teman yang tadi mengatakan sudah jam 5 salah lihat padahal baru jam 3 pagi. Akhirnya jadilah tidurnya dilapangan terbuka tanpa tenda dan setelah merasa kedinginan semuanya mengungsi keteras depan rumahku. Ya itulah pengalaman anak-anak yang ingin merasakan tahun baru walau dengan berkemah didekat rumah.