
Nov 12, 2009
Cahaya, sebuah media yang mungkin saat kita kecil sering kita gunakan untuk bermain-main. Entah dengan menggunakan lampu senter, memantulkan cahaya dengan sebuah cermin atau bahkan menggunakan kaca pembesar (lup) untuk membuat api.
Namun bukan cuma anak kecil saja suka bermain-main dengan cahaya. Dalam proses pemotretan, seorang fotografer bahkan menjadikan cahaya ini sebagai salah satu faktor yang sangat membantu sehingga tercipta sebuah foto yang baik, bagus dan menggandung unsur seni. Begitu juga saat kita mengedit sebuah foto menggunakan program tertentu minimal pencahayaan yang kita atur sedemikian rupa.
Tapi ini bukan bercerita tentang anak kecil yang bermain dengan cahaya, juga bukan bercerita tentang fotografer yang hebat, tapi cerita seorang lelaki yang berumur 32 tahun yang sedang bermain-main dengan cahaya. Ya..itulah aku..yang entah beberapa waktu ini begitu menyukai yang namanya kamera, suka mengambil sebuah foto dan berburu foto-foto yang menurutku asik dan menarik..tapi harap maklum saya bukan fotografer, namun hanya menyukainya dan mencoba mencari sebuah makna dari foto-foto yang telah diambil.
Continue Reading »

Nov 10, 2009
Seperti biasa aku pergi dipagi hari, dengan bermodalkan seperangkat sound sistem yang sederhana, aku berkeliling pasar ini, mengharapkan rupiah yang diberikan secara sukarela bagi mereka yang berkenan memberikannya.
Ditengah ramainya aktivitas jual beli di pasar ini, aku mencoba peruntungan dengan bernyanyi menghibur para pedagang dan pengunjung pasar ini. Dengan lagu yang beriramakan timur tengah, aku terus bernyanyi dan bernyanyi.
Dan besok, aku akan kembali lagi..entah dimana dan sampai kapan aku lakukan aktivitas ini.
“
…..
penyanyi jalanan…
kau selimuti duka dengan senyummu
penyanyi jalanan…
terik mentari jadi saksi langkahmu
penyanyi jalanan…
akankah mimpimu terwujud
mencoba menggapai anganmu
merangkai mimpimu bersama sang waktu….” By Ungu

Nov 9, 2009
Kukayuh perahuku…
Disiang hari, melawan panasnya matahari
Lengkap dengan peralatan pancingku
Kucoba mengadu nasib, berharap kelak kail yang kuayunkan dapat memancing seekor ikan untuk memakannya.
Hal yang demikan sudah sejak lama kulakukan, maklum kami hidup telah lama bergantung dan bersahabat dengan sungai ini. Ya itulah aku..masih bertahan di kota yang katanya Kota Seribu Sungai. Walau terkadang aku masih teringat saat kecil, saat ayahku, saat kakekku bercerita betapa sungai ini dulu sangat jernih airnya. Jauh berbeda dengan keadaan sekarang yang semakin lama semakin berwarna kecoklatan. Mungkin dapat dipahami, dulu eksplotasi terhadap alam ini belumlah segila dan seserakah saat ini, menghabiskan dengan membabat hutan yang ada hulu dihulu sungaiku sehingga tak ada lagi yang dapat menyaring air yang jatuh disungai ini. Dulu kakekku dan ayahku dapat menyusuri Banjarmasin melalu anak-anak sungai yang saling terhubung satu dengan lainnya. Namun sekarang itu cuma menjadi sepenggal cerita masa lalu, yang akan menjadi cerita bagi aku kepada anakku dan cucuku. Karena keberadaan sungai ini semakin terpinggirkan oleh lajunya perkembangan kota, yang berkembang tanpa memperhatikan karakteristik dan tanpa mempedulikan keberadaan sungai-sungai ini.
Continue Reading »